BIOGRAFI IMAM AN-NAWAWI

Assalamu'alaikum wr.wb 
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua berupa kesehatan sehinggah saya bisa melanjutkan menulis artikel tengtang biografi orang-orang soleh dan sahabat semua masih bisa untuk mengunjungi lagi blog saya ini ,tidak lupa sholawat serta salam tetap kita limpahkan kehadirat baginda nabi muhammad SAW. yang telah menujukan kita mana yang haq dan mana yang buruk sehingga kita tidak tersesat hingga saat inj dan semoga Allah tetap melimpah hidayah nya kepada kita semua sehinggah kita tetap dalam keadaan iman,islam hinggah hari akhir kita nanti Aamiin .



An-Nawawi  adalah seorang imam, al-hafizh, istimewa, teladan, syaikhul Islam, simbol para wali, Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya bin Syarf bin Murri al-Hazzami al-Hawaribi asy-Syafi'i, pemilik banyak karangan yang bermanfaat.



Nasab ,Dan Tempat Lahir 


Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H, kemudian pindah ke Damaskus pada tahun 649 dan tinggal di ar-Rawahiyah. Ketika mengeyam pendidikan sekolah, beliau menghafal at-Tanbih dalam empat setengah bulan, dan membaca dengan hafalan seperempat al-Muhadzdzab pada sisa tahun itu kepada Syaikh al-Kamal bin Ahmad. Kemudian beliau berhaji bersama ayahnya dan tinggal di Madinah selama satu setengah bulan, namun beliau menderita sakit dalam kebanyakan perjalanannya.
Syaikh Abul Hasan bin al-aththar ,menyebutkan bahwa Syaikh Muhyiddin (imam an-nawawi) mengisahkan kepadanya: “Dahulu, saya membaca setiap hari 12 materi pelajaran kepada para syaikh yang disertai syarah dan pen-tashhih-an: dua pelajaran al-Wasith, satu pelajaran al-Muhadzdzab, satu pelajaran menggabungkan antara Shahihain(mungkin ini terhitung dua mata pelajaran sehingga tepat jumlahnya 12, wallahu a'lam) ,satu pelajaran Shahih Muslim, satu pelajaran al-Luma’ karya Ibnu Janiy, satu pelajaran ilmu mantik, satu pelajaran Sharaf, satu pelajaran ushul fiqh, satu pelajaran nama-nama rijal, dan satu pelajaran ushuluddin.


 Para syaikh beliau 

Imam an-Nawawi  mendengarkan hadits dari ar-Ridha bin al-Burhan, ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad al-Anshari, Zainuddin bin ‘Abdid Daim, Imaduddin ‘Abdul Karim al-Harastani, Zainuddin Khalaf bin Yusuf, Taqiyyuddin bin Abil Yusri, Jamaluddin bin Shairafi, Syamsuddin bin Abi Umar, dan yang setingkat dengan mereka.
Beliau telah mendengarkan Kutubus Sittah, al-Musnad, al-Muwaththa’, Syarhus Sunnah al-Baghawi, Sunan ad-Daraquthni, dan masih banyak lagi.
Beliau membaca Jl-Kamal karya Al-Hafizh 'Abdul  Ghani 'Alauddin, mempelajari syarah hadits-hadits ash-Shahihain dari Muhaddits Abu Ishaq Ibrahim bin 'Isa al-Muradi, mempelajari ushul dari Qadhi at-Taflisi, mempelajari fiqh dari al-Kamal Ishaq al-Maghribi, Syamsuddin 'Abdurrahman bin Muh, 'Izzuddin Umar bin Sa’ad al-Irbili, al-Kamal Salar al-lrbili, mempelajari nahwu dari Syaikh Ahmad al-Mishri dan selainnya, dan beliau membacakan kepada lbnu Malik salah satu kitab karangannya.
Beliau senantiasa aktif mempelajari, mengarang, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid-wirid, puasa, dzikir, sabar atas sempitnya penghidupan berupa makanan pokok, pakaian kulit kasar, dan sorban Syabkhatani kecil.

 Murid-Murid Beliau 

Banyak ulama' yang lahir dari hasil didikan beliau, di antaranya al-Khathib Shadruddin Sulaiman al-Ja'fari, Syihabuddin Ahmad bin Ja’wan, Syihabuddin, al-Arbadi, 'alauddin bin al-'aththar dan mengambil hadits darinya lbnu Abil Fath, al-Mizzi, dan Ibnul ‘Aththar.

 Kesungguhan Dalam hafalan 

Ibnul al-'aththar berkata: “Syaikh an-Nawawi mengisahkan dirinya kepadaku bahwasanya beliau tidak menyia-nyiakan waktunya, baik di siang hari maupun malam hari, sampai pun di jalan. Beliau menekuni hal ini selama 6 tahun, kemudian beliau mulai mengarang, mengajar, memberi nasehat, dan menyampaikan al-haq.”
lbnul ‘Aththar berkata: “Bersamaan dengan kesungguhan beliau mengarahkan jiwanya, mengamalkan sikap wara' yang detail, muraqabah, mensucikan jiwa dari semua kotoran dan memalingkannya dari ambisinya, maka beliau juga menghafal hadits, bidang-bidangnya, para perawi, shahih dan cacatnya, serta beliau tokoh di dalam ilmu mazhab asy-Syafi'i.”
Syaikh ar-Rasyid bin al-Mu'allim, berkata: “Saya telah mengkritik Syaikh Muhyiddin (Imam an-Nawawi) tentang perkara tidak masuknya beliau ke wc, kesempitan hidup dalam makanan, pakaian, dan keadaannya. Saya khawatir beliau tertimpa sakit yang akan menghalangi keaktifannya, maka beliau menjawab: “Si fulan berpuasa dan beribadah kepada Allah sampai menjadi dingin kulitnya”.
Beliau berpantang dari makan buah dan mentimun, beliau berkata: “Saya khawatir ia mengenakkan jasmaniku lalu mengundang tidurku.”
Beliau makan hanya sekali dalam sehari semalam dan minum sekali ketika sahur.

 Hasil karya beliau 

Di antara kitab karangan beliau: Syarah Shahih Muslim, Riyadush Shalihin, al-Adzkar, al-Arba'in, al-Irsyad fi 'Ilmil Hadits, at-Taqrib, al-Mubhamat, Tahrirul Alfadz lit Tanbih, aI-‘Umdah fi Tashhih at-Tanbih, aI-Idhah fil Manasik (hmasih ada tiga kitab manasik lainnya), at-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, aI-Fatawa, ar-Raudhah, syarh aI-Muhadzdzab sampai bab Musharrat (ternak yang tidak diperah susunya agar penuh) dalam 4 jilid, Syarah sebagian Shahih al-Bukhari, sebagian al-Wasith, sebagian hukum, sejumlah nama perawi dan bahasa, Musawwadah tentang tingkatan fuqaha', dan sebagian at-Tahqiq fil Fiqh hingga bab Shalat Musafir.

  Wara'nya 

Beliau tidak menerima sesuatu pun dari seseorang kecuali sedikit dari orang yang tidak menyibukkannya. Seorang faqir menghadiahkan untuknya sebuah teko maka beliau menerimanya. Pernah Syaikh Burhanuddin al-Iskandarani memintanya dengan sangat untuk berbuka puasa di tempatnya, maka Syaikh an-Nawawi berkata: “Bawa kemari makanan itu lalu kita akan berbuka seadanya”, maka beliau pun makan dari makanan itu yang terdiri dari dua menu, serta terkadang saja Syaikh memasukkan dua bumbu.

 Wafat beliau 

Syaikh an-Nawawi melakukan perjalanan kemudian menziarahi Baitul Maqdis, lalu kembali ke Nawa. Beliau sakit di rumah orang tuanya, hingga akhirnya kematian menjemput beliau pada 24 Rajab 676 H.
Syaikh Quthubuddin al-Yunaini berkata: “Beliau seorang yang tidak ada duanya di zamannya dalam amal, wara', ibadah, menyedikitkan harta dunia, serta beliau berdiri mengkritik Raja azh-Zhahir di gedung pengadilan bukan hanya sekali. Diriwayatkan ucapan Raja azh-Zhahir: Saya gemetar menghadapinya.”
Beliau menjabat di Darul Hadits tahun 665 H setelah Abu Syamah hingga beliau meninggal, semoga Allah mensucika rohaninya. aamiin

Alhamdulillah Allah masih memberikan kita kesehatan sehingga kita masih dapat mengetahui sejarah seorang imam yang masyhur  seperti imam An-Nawawi .seperti itulah perjuangan para orang - orang soleh yang memiliki tingkat keilmuan yang tinggi, sehingga nama beliau yang tetap dikenal sebagai ulama' yang masyhur bukan hanya di jamannya tapi hingga saat ini , semoga kita bisa sedikit meneladani perilaku beliau ,Aamiin

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »